DaerahHeadline NewsPribadiPROFIL

Abdul Rivai Ras : Makna Kepahlawanan di Era Milenial

“Pahlawan Generasi Milenial”

FOKUSPARLEMEN.COM – Seperti setiap generasi lainnya, kepahlawanan era milenial menampilkan sifat-sifat umum dan unik. Latar belakang ekonomi, politik, dan sosial memengaruhi budaya dan menciptakan dampak yang langgeng.

Perubahan tidak dapat sepenuhnya dipahami untuk beberapa waktu, biasanya sekitar waktu karakteristik unik dari generasi berikutnya menjadi diakui. Jejak bergerak melalui siklus kehidupan individu, membuat kesan yang lebih signifikan pada pemuda ketika mereka membentuk nilai-nilai inti mereka.

Tentu saja, peristiwa kemasyarakatan ini mempengaruhi generasi lain, meskipun mereka sering ditafsirkan secara berbeda melalui lensa kedewasaan dan pengalaman. Akhirnya, orang dewasa muda dari satu generasi menjadi tua-tua, dan membawa unsur-unsur pengaruh generasi diantara mereka yang pada gilirannya membuat dampak yang langgeng pada masyarakat.

Jika setiap generasi memiliki kepribadian, maka dapat dikatakan bahwa “baby boomer” adalah idealis, yang dibentuk oleh watak kritis lingkungan yang dinamis yang jauh berbeda cara pandangnya dari pada para pahlawan terdahulu yang berjuang untuk kemerdekaan.

Kini pahlawan baru ini menjadi tumpuan karena memiliki landasan berpikir berbeda dalam mempertahankan kemerdekaan dengan cara cara non-tradisional.

Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa sikap yang fanatik dan ambisius “stereotype” mungkin kritis terhadap orang yang tidak memiliki etika dan nilai yang sama. Generasi yang lalu seringkali dinilai independen bahkan mungkin tidak menghargai orientasi tim dan keinginan untuk umpan balik yang tampaknya konstan. Pada saat yang sama, di era milenial, kaum muda yang berpikiran sosial mungkin tidak memahami prioritas generasi lain.

Kepahlawanan hari ini tentunya dapat dilihat dari suatu perubahan dari perkembangan peradaban kita dari waktu ke waktu. Generasi sekarang tidak lagi berhadapan dengan musuh yang sama dengan seabad atau 70 tahun lalu. Musuh generasi sekarang adalah persoalan keadilan dan kesejahteraan yang belum bisa dinikmati secara merata oleh masyarakat Indonesia.

Generasi milenial, kini memiliki pekerjaan rumah yang berat yaitu menjadikan negara yang kuat dan punya daya saing yang baik untuk berhadapan dengan negara-negara lainnya di Indonesia.

Untuk itu, jiwa kepahlawanan saat ini mensyaratkan banyak hal antara lain, generasi yang disebut milenial harus mengubah diri agar lebih dapat fokus untuk meningkatkan mutu diri mereka sendiri. Dengan begitu mereka dapat bermafaat untuk sekeliling, kemudian bagi bangsa dan negara.

Ada beberapa orang yang lahir di generasi millenial yang punya kisah sukses yang mereka raih dengan cara-cara mereka sendiri. Berbagai aktivitas dengan cara-cara yang menyenangkan dan modern.

Dengan cara mereka dapat memberikan harapan dan rasa optimisme ke pihak lain, bahkan bagi bangsa dan negara. Mereka yang berasal dari generasi milenial ini juga layak disebut sebagai pahlawan.

“Nilai Generik Kepahlawanan”

Cinta Tanah Air, rela berkorban, dan berani merupakan nilai-nilai kepahlawanan yang ingin dimiliki masyarakat. Keinginan melaksanakan nilai kepahlawanan harus dimulai dari lingkup terkecil dalam keluarga.

Nilai-nilai itulah yang diperlukan untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah isu suku, agama, ras, dan antar-golongan. Nilai kepahlawanan itu berupa kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Nilai-nilai itu relevan pada masa kini untuk menjaga persatuan, khususnya bagi generasi muda.

Cinta Tanah Air menjadi salah satu nilai umum yang paling ingin dicapai. Selain itu, cinta Tanah Air, sikap rela berkorban dan keberanian merupakan urutan berikutnya dari nilai-nilai kepahlawanan yang ingin dimiliki.

Cinta Tanah Air berarti cinta pada negeri tempat memperoleh penghidupan. Seseorang yang cinta pada Tanah Air senantiasa berusaha agar negerinya tetap aman, damai, dan sejahtera.

Publik menilai bahwa untuk melaksanakan nilai-nilai perjuangan kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari dapat dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Sebagai contoh dengan menanamkan semangat berkorban, disiplin, kebersamaan, dan motivasi untuk berprestasi bagi keluarga merupakan nilai-nilai generik yang dapat diaplikasikan dalam keluarga.

“Kepahlawanan Dalam Arti Luas”

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Kalimat ini tegas mengingatkan kita untuk selalu mengenang jasa pengorbanan dan perjuangan pahlawan yang telah mengabdikan diri untuk negeri ini.

Setiap tanggal 10 November bangsa ini memperingati Hari Pahlawan sebagai momentum mengenang secara kolektif semangat patriotisme dan nasionalisme para pejuang bangsa. Peringatan Hari Pahlawan mendorong seluruh masyarakat agar memiliki jiwa-jiwa kepahlawanan sebagaimana dimiliki oleh para pendahulu bangsa ini.

Sesungguhnya bukan hanya pada tanggal 10 November kita dapat memperingati hari pahlawan, tetapi setiap hari kita bisa menyaksikan nilai kepahlawanan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan merupakan orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Apabila ditilik maknanya secara etimologis, kata pahlawan berasal dari bahasa Sansekerta phala-wan, yang bermakna hasil atau buah.

Dari pengertian tersebut, pahlawan berarti seseorang yang memberikan pahala, buah dan hasil yang bisa nikmati untuk kepentingan orang banyak. Arti pahlawan dalam pengertian ini sangat luas dan memasukkan siapapun yang telah memberikan kontribusi yang berpengaruh untuk kepentingan orang banyak baik kontribusi fisik maupun pemikiran. Hasil yang bermanfaat bagi kepentingan bangsa dan umat manusia.

Sedangkan menurut Undang-Undang nomor 20 tahun 2009, Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara. Atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Sebenarnya pahlawan tidak sebatas mereka yang masuk dalam kategori UU tersebut. Pembatasan arti pahlawan dengan UU tersebut memang untuk membatasi pemberian gelar pahlawan nasional. Namun, secara umum setiap warga negara yang telah memberikan bakti kepada masyarakat, bangsa dan negara dan umat manusia secara umum.

Pahlawan adalah mereka yang rela mengorbankan ego dan kepentingan pribadinya untuk mencapai tujuan mulia untuk kepentingan umum yang mulia. Kerelaan berkorban demi tujuan mulia tanpa pamrih adalah poin penting untuk disebut sebagai pahlawan. Tidak banyak orang yang berjiwa pahlawan. Karena menjadi pahlawan menuntut keberanian untuk menekan ego dan kepentingan pribadi dengan mengepankan kepentingan bersama.

Kondisi saat ini membutuhkan pahlawan-pahlawan baru yang kompatible dengan tantangan kekinian. Butuh pahlawan era kekinian yang mampu menjawab problematika bangsa dan umat yang terus berkembang. Ancaman yang merusak tatanan bangsa ini bukan lagi penjajahan secara fisik. Tantangan terbesar pahlawan era milenial adalah ancaman serangan mental dan ideologi yang merusak perdamaian bangsa.

Karenanya, bangsa ini butuh pahlawan dalam segala aspek yang mampu mengorbankan jiwa, raga dan pikiran untuk menjaga perdamaian bangsa ini. Tantangan di era milenial yang padat teknologi digital saat ini juga semakin kompleks. Narasi-narasi negatif mudah memecah belah persatuan bangsa. Setiap hari masyarakat disuguhi dengan konten yang tidak mendidik dan mudah menghasut.

Dalam konteks itu, butuh pahlawan-pahlawan milenial dari kalangan generasi muda untuk mendarmabaktikan tenaga dan pikirannya untuk melawan penjajahan narasi yang mencoba meruntuhkan NKRI. Perang narasi di dunia maya menjadi tantangan kekinian bagi para pahlawan milenial.

Makna kepahlawanan di era milenial harus dipahami sebagai suatu kemajuan cara berpikir, berucap dan bertindak dalam bentuk lain yang dilakukan oleh para pahlawan yang terdahulu.

Secara faktual, pahlawan milenial saat ini adalah bukanlah dengan mengangkat senjata, tetapi mereka yang memutus habis kebencian dengan sesama.

Disamping itu kepahlawanannya dapat diwujudkan melalui keberanian untuk melawan narasi-narasi kebencian, hasutan dan provokasi yang dapat memecahbelah persatuan.

Kepahlawanan ini juga sekaligus mengembangkan kemampuan untuk dapat menangkal virus radikalisme dan terorisme yang dapat merusak keutuhan bangsa.

Para pahlawan milenial selalu berjuang dalam menjaga perdamaian dengan memenuhi konten positif dan senantiasa membangun semangat persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman pandangan di dunia maya.

Sebagai catatan penutup, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, seyogyanya makna kepahlawanan dapat dilihat secara utuh, karena dari waktu ke waktu bangsa dan negara ini akan terus mencetak pahlawan sesuai masanya masing-masing. Karena itu, jadilah pahlawan milenial dengan menjaga Perdamaian dan Keutuhan NKRI.

Selamat Hari Pahlawan!, Semoga Indonesia semakin Jaya.(*) (mft/Red)

Comment here