NasionalOpiniTokoh

Mengenal Propaganda Politik di Era Post-Truth

Dr. Abdul Rivai Ras
Pengajar Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI dan Founder BRORIVAI Center

FOKUSPARLEMEN.COM, JAKARTA – Dalam dunia politik, propaganda adalah metode sekaligus alat yang sangat efektif untuk mendapatkan keuntungan posisi politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawan yang dilakukan lebih dari satu kali atau secara terus menerus (repetitive action).

Propaganda yang dinyatakan sukses apabila dapat menjadi senjata yang ampuh untuk merendahkan musuh atau lawan politik dengan cara menghasut kebencian terhadap kelompok tertentu, mengendalikan representasi bahwa pendapat itu yang benar meskipun hasil manipulasi.

Sejarah Propaganda Dunia

Pada akhir abad ke-19 dikenal konsep propaganda dengan perbuatan atau propaganda aksi (propaganda by the deed atau propagande par le fait). Konsep ini merupakan konsep tradisional anarkis, yang mempromosikan tindakan kekerasan secara fisik dalam melawan musuh-musuh politik.

Propaganda semacam ini dilakukan, baik oleh individu maupun kelompok, sebagai cara untuk memberikan inspirasi terhadap massa dan mendorong terjadinya gerakan massa anarkis atau revolusi.

Dalam perkembangan sejarah propaganda, terdapat tiga negara yang dikenal dunia dan menjadi refleksi bagi negara lain dalam
merancang model propaganda politik dan strategi yang mematikan. Ketiga negara itu yakni, Jerman,
Uni Soviet (kini Rusia), dan Jepang.

Kegiatan propaganda paling menonjol dan menjadi studi akademik-empirik yang menarik adalah pengalaman propaganda Hitler dalam mempengaruhi bangsa Jerman dengan ajaran atau paham Nazi. Penggunaan propaganda secara intensif dalam bidang politik dilakukan oleh Hitler bersama dengan menteri propagandanya Joseph Goebbels.

Kebohongan-kebohongan, ancaman, dilakukan dalam menyebarkan, menanamkan dan menumbuhkembangkan idiologi fasisme nazional socialism (Nazi) terutama untuk merebut, meraih, memperluas, dan mempertahankan kekuasaannya. Propaganda Hitler yang terpenting adalah bagaimana dapat mencapai suatu tujuan dengan menghalalkan segala cara.

Sejarah juga mencatat bahwa Uni Soviet yang kini disebut sebagai model propaganda Rusia memiliki perjalanan panjang dalam praktik politik dunia. Model dan modus operandi Rusia ini dikenal sebagai Operasi Semburan Fitnah (Firehouse of Falsehood). Model operasi tersebut pernah digunakan oleh Rusia antara tahun 2012-2017 dalam menyulut krisis Crimea, konflik Ukraina, dan perang sipil di Suriah.

Di Rusia sendiri, model dan modus operandi ini sudah muncul sejak dekade 1870-an melalui gerakan Narodniki, dimana aksi ini dilakukan untuk menjatuhkan Czar Rusia dengan cara terus menerus memunculkan isu-isu negatif. Metode ini diambil untuk membentuk ketidakpercayaan masif dari rakyat Rusia terhadap sistem politik yang kemudian dikapitalisasi oleh Lenin saat Revolusi Oktober 1917.

Sedangkan dalam konteks propaganda politik di era Perang Dingin, dihadapkan dengan kekuatan Amerika, Rusia melancarkan propaganda anti-kapitalis dengan melibatkan para seniman Uni Soviet ketika itu yang ditugaskan untuk menunjukkan seperti apa gambaran perlakuan Amerika sebenarnya kepada rakyat Soviet, sehingga mereka tidak setengah-setengah dalam menggambarkan orang Amerika secara keseluruhan sebagai si kapitalis tua yang buruk rupa, Paman Sam.

Sedangkan dalam praktek propaganda di kawasan Asia, Jepang menjadi sejarah penting ketika munculnya gerakan politik Kekaisaran Jepang pada era Perang Dunia II yang dikenal dengan “Propaganda 3A”. Gerakan ini merupakan organisasi propaganda untuk kepentingan perang Jepang, dengan motto Nippon cahaya Asia, Nippon pemimpin Asia, Nippon pelindung Asia.

Organisasi ini berdiri pada bulan April 1942. Pimpinannya adalah Mr. Sjamsuddin. Tujuannya adalah melakukan propaganda dengan model dan modus untuk menghimpun tenaga rakyat, mendapat dukungan untuk melawan sekutu, dan untuk menarik simpatik rakyat Indonesia dalam memenangkan Perang Asia Timur Raya.

Untuk menunjang gerakan ini, dibentuk Barisan Pemuda Asia Raya yang dipimpin Sukarjo Wiryopranoto dalam menyebarluaskan propaganda dengan menerbitkan surat kabar Asia Raya. Dalam menjalankan aksinya, Jepang berusaha untuk bekerja sama dengan para pemimpin bangsa Indonesia agar dapat merekrut massa dengan mudah, sekaligus dapat mengawasi kinerja para pemimpin nasional ketika itu.

Apa itu Propaganda Politik?

Kata propaganda seringkali dipersepsikan secara buruk. Hal ini beralasan karena propaganda menjadi perangkat politik bagi pihak yang ingin memenangkan pertarungan dengan berbagai pendekatan negatif.

Menurut Ardial (2009), istilah propaganda mendapat reaksi negatif di negara-negara demokrasi, karena dengan propaganda seperti dalam kasus Nazi, banyak menelan korban jiwa. Negara-negara demokrasi yang dipelopori Amerika sangat anti dengan kegiatan propaganda, meskipun sebaliknya Amerika seungguhnya juga melawannya dengan kontra-propaganda. Propaganda dinilai tidak sedikit pun dapat memberikan pencitraan yang baik, dan umumnya menimbulkan kesan yang buruk.

Secara konseptual, propaganda adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya. Bahkan, propaganda dapat dilihat dari konteks kegiatan komunikasi yang erat kaitannya dengan persuasi.

Pada dunia akademis, propaganda tersebut seakan ditabukan. Kegiatan propaganda memang sangat terkait dengan kepentingan politik. Sehingga dalam sejumlah referensi gerakan propaganda merupakan kebijaksanaan atau tindakan politik yang diarahkan untuk menentukan isi dan tujuan yang hendak dicapai terkait dengan kepentingan kekuasaan.

Dalam propaganda politik umumnya melibatkan usaha pemerintah, partai atau golongan untuk pencapaian tujuan strategis dan taktis, dan kegiatan popaganda politik itu sendiri mencakup penyebaran doktrin, penyebaran keyakinan politik tertentu.

Secara umum, wujud dari propaganda dapat dilihat dari proses penyampaian gagasan, ide/kepercayaan, atau doktrin dalam rangka mengubah opini, sikap, dan perilaku individu/kelompok, dengan teknik-teknik memengaruhi dalam suatu interaksi politik, baik skala lokal, nasional, regional maupun internasional.

Pola dan Komponen Propaganda

Sesungguhnya, propaganda juga dapat diartikan sebagai diseminasi informasi untuk memengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok masyarakat dengan motif indoktrinasisasi ideologi. Capaian aksi ini untuk mengubah pikiran kognitif dan membangkitkan emosi para targetnya.

Pola aksi propaganda dapat dilihat dari sumber, metode, sistem, dan jenis, bentuk komunikasi dan wilayah kegiatannya.

Dalam melihat menurut sumbernya, terdapat tiga pendekatan yakni: propaganda tertutup (concealed propaganda) yang sumbernya tidak diketahui dari mana; propaganda terbuka (revealed propaganda) yang sumbernya disebutkan dengan jelas dan secara terbuka; dan propaganda tertunda (delayed revealed propaganda) yang sumbernya pada mulanya dirahasiakan, tetapi lambat laun terbuka dengan jelas.

Sedangkan dari metode yang digunakan bisa bersifat koersif maupun persuasif. Cara koersif yang dilancarkan dengan metode ancaman atau bahasa kekerasan, serta menggunakan lambang-lambang komunikasi yang menimbulkan ketegangan jiwa yang berakibat rasa takut, rasa terancam, dan rasa mengerikan.

Sebaliknya dengan cara persuasif yang menyampaikan pesan-pesan untuk menimbulkan rasa tertarik sehingga target propaganda senang dan rela melakukan sesuatu.

Dari sistem yang diterapkan dalam bentuk symbolic interaction yang menggunakan simbol-simbol dan lambang-lambang komunikasi yang penuh arti. Bahasa atau tulisan, serta gambar-gambar isyarat-isyarat yang telah dirumuskan sedemikian rupa dapat merangsang jiwa target propaganda untuk menerima pesan kemudian memberikan respon seperti yang diharapkan propagandis.

Sementara sistem propaganda by the deed menggunakan perbuatan nyata untuk memaksa target menerima pesan dan melakukan tindakan sebagaimana yang dikehendaki.

Menurut sifatnya, dapat dilihat dari tiga kelompok yaitu, “propaganda putih” berasal dari sumber yang dapat diidentifikasi secara terbuka; “propaganda hitam” berasal dari sumber yang dianggap ramah akan tetapi sebenar-benarnya bermusuhan; “propaganda abu-abu” berasal dari sumber yang dianggap netral tetapi sebenarnya bermusuhan.

Adapun komponen-komponen propaganda yang perlu dicermati adalah terkait dengan kegiatan penyebaran pesan yang telah direncanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat, dan tingkah laku target propaganda sesuai dengan pola yang telah ditetapkan.

Pada umumnya, propaganda lebih merupakan kegiatan komunikasi massa, mengingat targetnya adalah massa yang banyak dan wilayah jangkauannya pun sangat luas hingga massa tak bisa dikenali satu per satu. Begitu juga sarana yang digunakan adalah sarana-sarana yang lazim digunakan dalam komunikasi massa.

Komponen-komponen dalam propaganda mirip dengan komponen dalam kamunikasi massa yang mencakup; komunikator atau propagandis, komunikasi atau target propaganda, pesan tertentu yang telah di-encode atau dirumuskan sedemikian rupa agar tujuan dapat tercapai secara efektif, sarana atau medium yang tepat, teknik yang seefektif mungkin, kondisi dan situasi yang memungkinkan dilakukannya kegiatan propaganda bersangkutan, serta politik propaganda yang menentukan isi dan tujuan propaganda yang hendak dicapai

Mirip rancangan media massa, desain propaganda pada intinya memerhatikan aspek pemilihan dan permainan kata-kata. Desain propaganda tidak lepas dari aturan normatif yang berlaku. Di sini, perancang propaganda memainkan peran penting dalam merumuskan pesan atau rangkaian kata-kata dan seni grafis, dalam bentuk lain temasuk seni retorika, senin panggung, dan seni lain untuk mempercantik atau mengoptimalkan daya tarik tampilan dan sajian pesan propaganda.

Propaganda dengan slogan dan seni grafis yang menawan banyak digunakan sebagai senjata ampuh untuk memengaruhi sikap dan tindakan massa terhadap suatu ide atau kondisi tertentu.
Pemilihan jenis dan ukuran huruf serta tata letak dan seni infografis sangat penting. Bahasa grafis dalam propaganda bersifat universal, maksudnya grafis tidak mengenal hambatan bahasa bagi orang-orang dari setiap bagian dunia manapun.

Bahasa grafis berfungsi sebagai alat komunikasi universal karena gambar visual dapat dengan mudah dipahami secara intuitif. Terkait dengan peraturan peredaran dan bidang lain pada beberapa aplikasi grafis, propaganda merupakan tujuan lain.

Teknik Propaganda Politik

Ada beberapa teknik propaganda yang sudah cukup familiar dan contoh penerapannya di bidang politik. Sejumlah teknik tersebut meliputi; penjulukan, iming-iming, teknik transfer, merakyat, kesaksian, menumpuk kartu, dan gerobak musik.

Penjulukan (Name Calling) Teknik ini merupakan teknik propaganda dengan cara memberikan sebuah ide atau label yang buruk kepada orang, gagasan, objek agar orang menolak sesuatu tanpa menguji kenyataannya. Pemberian label buruk tersebut bertujuan untuk menjatuhkan atau menurunkan kewibawaan seseorang atau kelompok tertentu, misalnya berkaitan dengan pertarungan Capres yang mengangkat isu “akal sehat”, yang merendahkan calon lain.

Iming-Iming (Glittering Generalities) Teknik propaganda ini menggunakan “kata yang baik” untuk melukiskan sesuatu agar mendapat dukungan, tanpa menyelidiki ketepatan asosiasi itu. Teknik propaganda ini digunakan untuk menonjolkan propagandis dengan mengidentifikasi dirinya dengan segala apa yang serba luhur dan agung. Misalnya, ketika Prabowo dalam debat Capres menyampaikan perihal rencana menaikkan gaji polisi, hakim dan jaksa sebagai suatu bentuk upaya dalam mengefektifkan penegakan hukum dan mencegah terjadinya korupsi di Indonesia.

Teknik Transfer Teknik propaganda ini mencakup kekuasaan, sanksi dan pengaruh sesuatu yang lebih dihormati serta dipuja dari hal lain agar membuat “sesuatu” lebih dapat diterima. Teknik propaganda transfer bisa digunakan dengan memanfaatkan pengaruh seseorang atau tokoh yang paling dikagumi dan berkharisma dalam lingkungan tertentu dengan mengindetifikasi suatu maksud menggunakan lambang otoritas, misalnya “Saya Pilih Jokowi”.

Merakyat (Plain Folk) Merupakan salah satu teknik propaganda yang menggunakan pendekatan oleh seseorang untuk menunjukkan dirinya rendah hati dan empati, imbauan yang mengatakan bahwa pembicara berpihak kepada khalayak dalam usaha bersama yang kolaboratif. Contoh: “saya salah seorang dari anda, hanya rakyat biasa.

Kesaksian (Testimonials) Testimonial berupa ucapan-ucapan orang yang dihormati atau dibenci untuk mempromosikan atau meremehkan suatu maksud. Kita mengenalnya dalam dukungan politik, Misalnya dalam masa-masa kampanye pilpres, Wapres Jusuf Kalla memberikan pernyataan dukungan yang disertai alasan keberhasilan Jokowi. Argumen pribadi yang dihormati tersebut merupakan teknik testimonial dan sedikit banyak mempengaruhi calon pemilih untuk memantapkan pilihannya untuk memilih kembali Jokowi.

Menumpuk Kartu (Card Stacking) Teknik ini dilakukan dengan memilih pernyataan yang akurat dan tidak akurat, logis dan tak logis dan menonjolkan salah satu aspek saja. Card Staking merupakan teknik propaganda dengan menonjolkan satu sisi saja, entah baik atau buruk, sehingga publik hanya melihat satu sisi saja.

Card staking meliputi seleksi dan penggunaan fakta atau kebohongan untuk memberikan kemungkinan terburuk atau terbaik dari suatu gagasan. Contoh penggunaan teknik propaganda ini ketika munculnya tabloid Indonesia Barokah dalam masa menjelang Pilpres. Tabloid yang muncul di pesantren-pesantren itu berisi black campaign terhadap Prabowo.

Gerobak Musik (Bandwagon Technique) Propaganda dengan teknik ini dilakukan dengan tujuan meyakinkan khalayak akan kepopuleran dan kebenaran tujuan. Teknik propaganda ini diterapkan untuk meyakinkan orang bahwa semua anggota suatu kelompok (dimana orang tersebut masuk dalam kelompok tersebut) telah menerima suatu ide atau gagasan.

Teknik bandwagon ini memposisikan sasaran sebagai minoritas. Tidak jarang kita menemui kata-kata seperti “teman-temanmu yang sudah pasti pilih Paslon 01, masa kamu saja yang pilih Paslon 02?”. Dengan menempatkan sasaran propaganda sebagai minoritas, propagandis secara tidak langsung melakukan intimidasi secara mental. Sehingga, jika sasaran menolak ide atau gagasan dari propagandis, sasaran akan terancam dikucilkan dari suatu kelompok. Contoh lainnya, terkait dengan seorang menteri bertanya kepada seorang ASN, siapa yang menggaji kamu?, dan sebagainya.

Isu Propaganda Politik Ala Rusia

Akhir-akhir ini, setelah Rusia masuk kembali dalam konflik dunia, mulai dari Ukraina, hingga Suriah, diskusi mengenai kemampuan propaganda Rusia kembali menghangat. Bahkan, mesin propaganda dan _cyber army_ mereka dituduh terlibat merecoki pemilihan presiden di AS, yang menghasilkan Donald Trump sebagai pemenang. Dampaknya, Obama membuat kebijakan untuk mengusir 35 diplomat Rusia dari Amerika.

Keberanian dan efektifitas propaganda Rusia membuat banyak pihak terpana, termasuk RAND Corporation yang membuat tulisan tentang istilah propaganda Rusia yang populer setelah menerbitkan artikel berjudul The Russian “Firehouse of Falsehood”. Model Propaganda ini ditulis oleh Christopher Paul dan Miriam Matthews.

Sejak serangan mereka ke Georgia tahun 2008 silam, banyak evolusi yang terjadi dalam propaganda Rusia. Mereka secara efektif menggunakan berbagai pesan dan saluran penyebaran baru dalam kasus Krimea dan Suriah. Ada yang khas dari pola propaganda Rusia akhir-akhir ini, yaitu bersifat high-volume dan multichannel. Pesan disebarkan tanpa menghiraukan kebenaran. Dalam bahasa salah dari seorang pengamat yang kemudian mampu, menghibur, membingungkan, dan membanjiri audiens dalam sejarah propaganda baru Rusia.

Terkait dengan lontaran Presiden Joko Widodo yang mengundang komentar pro dan kontra soal istilah “Propaganda Rusia” menarik untuk dicermati secara etik dalam kehidupan bernegara dan hubungan internasional. Meskipun di tengah pertarungan politik perebutan kekuasaan, propaganda politik itu adalah sesuatu yang lumrah terjadi dimanapun.

Pandangan sejumlah pihak yang menyesalkan pernyataan Presiden Joko Widodo yang dinilai dapat mengganggu hubungan diplomatik Indonesia-Rusia pun menarik untuk didiskusikan secara akademik, karena pernyataan itu dapat ditelusuri dalam suatu catatan artikel yang diterbitkan RAND tahun 2016.

Artinya istilah itu sudah mulai populer sejak 3 tahun yang lalu dan menjadi istilah dan referensi dalam studi kajian stratejik dan global. Kalimat “Propaganda Rusia” secara terminologis sesungguhnya tidak diarahkan kepada Rusia sebagai negara, melainkan sebuah istilah yang digunakan dalam modus operandi dalam beberapa proses pemilihan umum seperti di Amerika Serikat, Brazil, dan Brexit.

Pilpres Amerika Serikat menjadi contoh pembangunan strategi operasi semburan fitnah atau teknik firehouse of falsehood dengan tujuan untuk membuat dusta mengalahkan kebenaran mencapai puncaknya. Sehingga kini sudah menjadi bagian dari metode perpolitikan baru di era post-truth.

Terlepas dari konteks pemilu dalam negeri, isu propaganda oleh Rusia (terutama via media sosial) yang pertama kali berhembus kencang sejak Pemilu Presiden AS tahun 2016 lalu itu yang hingga kini masih simpang siur, namun yang pasti pola operasi tersebut dapat menghancurkan kepercayaan publik ke otoritas politik, termasuk media.

Apapun itu, dengan diterapkannya semburan kebohongan, dusta dan kabar hoaks dalam menyongsong Pilpres mendatang bisa mempengaruhi dan membuat ketidakpastian dan berpotensi merusak demokrasi. (*)

Comment here