NasionalOpiniOrganisasi

Kesadaran Menyandang Status “Mahasiswa”

Oleh:
Randa Afrizal Sandra
Departemen PTKP HMI Cabang Padang

FOKUSPARLEMEN.COM – Mahasiswa adalah manusia yang posisinya ditempatkan sebagai masyarakat level menengah dalam strata kehidupan sosial.

Semua orang mungkin sudah tau bahwa mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change, agen of social control, dan iron stock. Ketiga fungsi tersebut melekat tanpa adanya suatu sumpah pengikatan secara resmi, melainkan hanya tradisi pemahaman yang terus didoktrin kepada mahasiswa supaya mereka sadar bahwa mereka tidak hanya sekedar berkuliah saja.

Berbagai upaya yang dilakukan oleh mahasiswa sejatinya selalu mengarah kepada tiga fungsi dan peran baku dari mahasiswa tersebut. Salah satu contohnya adalah pergerakan.

Pergerakan mahasiswa memang tidak bisa dilepaskan dari nostalgia reformasi 1998. Perjuangan intelektual muda yang saling bersatu padu dengan meninggalkan embel-embel ego kampus pada saat itu hanya bertujuan untuk memperjuangkan keadilan di negara Indonesia yang dianggap bermasalah.

Akan tetapi, seharusnya perjuangan itu menimbulkan kerinduan untuk diulang kembali, namun yang terjadi tidak seperti demikian. Pergerakan dan menjadi parlemen jalanan dianggap sudah tidak cocok lagi digunakan dalam era saat ini yang lebih mengutamakan penyampaian aspirasi melalui media sosial atau pemanfaatan teknologi.

Pertanyaannya, sudah seberapa besar pengaruhnya dalam dunia pergerakan mahasiswa?

Tidak bisa kita menafikkan bahwa mahasiwa hari ini sudah kehilangan taji perihal pergerakan. Perkembangan teknologi sudah merasuki jiwa seorang mahasiswa untuk menemukan arah baru pergerakan.

Namun, sejauh data empiris yang terlihat, nilai, dampak, dan dari pergerakan mahasiswa hari ini justru tidak memperlihatkan tekanan yang hebat terhadap social control. Ilmu yang seharusnya digunakan sebagai instrumen dalam melindungi masyarakat dari bahaya neo-kolonialisme, neo-liberalisme, dan neo-komunisme justru mahasiswa-lah yang banyak terjebak di dalamnya.

Bagaimana bisa bergerak andai aktor pergerakan sendiri yang terjebak dalam perangkat penjajahan tersebut?
Teknologi pada hari ini memang sudah menjadi kebutuhan manusia seluruhnya. Hal tersebut dikarenakan segala aspek kehidupan selalu berkaitan dengan teknologi.

Kita bisa mencontohkan secara sederhana bahwa papan tulis dalam kehidupan aktivitas belajar-mengajar di kampus tidak lagi bermanfaat karena sudah adanya LCD Proyektor. Dalam bersosial, handphone menjadi alat utama berkomunikasi dengan menyingkirkan fungsi mulut sebagai alat berbicara.

Hal tersebut bisa ditemukan di tempat-tempat tongkrongan/diskusi yang didalamnya terdapat para mahasiswa berkumpul. Kehadiran teknologi idealnya menghadirkan pengaruh positif dan negatif bagi mahasiswa.

Pengaruh positif dan negatif teknologi bagi mahasiswa teknologi telah merasuki jiwa mereka membuat mahasiswa lupa dan sebagian mahasiswa menjadi mesin yang dikontrol oleh tuan-tuan mereka yang memiliki kepentingan.

Perkembangan teknologi dikalangan mahasiswa adalah solusi dari berbagai permasalahan yang ada, saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa sumbangsih teknologi terhadap kehidupan mahasiswa harus diakui keberadaannya, namun mahasiswa tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa teknologi mendatangkan banyak masalah dan berbagai bentuk penyimpangan – penyimpangan bagi mahasiswa.

Sebagai contoh fenomena munculnya Android yang sedang marak digunakan oleh Mahasiswa khusunya, Android memungkinkan kita untuk berhubungan dan bertukar informasi dengan siapapun bahkan dengan seseorang yang berada sangat jauh dari tempat kita berada.

Teknologi ini seharusnya sangat menguntungkan bagi mahasiswa karena segala sesuatunya menjadi praktis. Namun yang terjadi justru android merupakan sarana “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Dengan munculnya Android Mahasiswa lebih menyukai berdiskusi melalui teknologi tersebut sehingga orang-orang yang berada satu tempat akan saling mengacuhkan.

Munculnya teknologi ini tentu saja sangat berpengaruh pada perubahan perilaku manusia, khususnya Mahasiswa. Beberapa orang yang sedang berada di satu tempat yang sama sejatinya saling bertukar informasi, namun pada kenyataannya saat ini orang-orang lebih memilih untuk bertukar informasi dengan orang yang berada jauh darinya.

Dalam perspektif Islam teknologi yang negatif yang berdampak terhadap hubungan sosial itu sudah dijelaskan bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw diturunkan kemuka bumi untuk untuk menyempurnakan akhlak (akhlak dalam berinterkasi sosial) manusia.

Dan juga islam menganjurkan betapa pentingnya melarang umatnya untuk memutuskan hubungan sosial sebagaimana Hadistnya, Rosulullah bersabda “bahwa tidak masuk surga bagi orang yang memutuskan silaturahmi”. (HR Bukhari dan Muslim).

Terkait dengan teknologi sendiri salah satu dari beberapa ayat yang sering kita dengar adalah Surat Al-Hujurat ayat 13, yang artinya “hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Terkait dengan dampak yang positif dan negatif yang ditimbulkan dari teknologi dikalangan mahasiswa berdasarkan dalil diatas yang menentukan baik atau buruknya dikalangan mahasiswa bukan berdasarkan positif atau negatif melainkan proses dan praktik penggunaan teknologi tersebut.

Terlepaskan dengan dampak positif dan negatif teknologi mahasiswa hari ini bukanlah kaum muda yang manut terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Seorang intelektual menurut ali syariati – tokoh intelektual Iran, mesti memiliki jiwa kepekaan dan berpihak kepada masyarakat. Oleh karena itu, kritisnya seorang mahasiswa tentu mesti memperhatikan apakah kebijakan tersebut sudah pro terhadap rakyat atau belum.

Andai banyak manfaatnya, maka mahasiswa harus menjadi pelopor utama dalam mendukung kebijakan tersebut. begitupun sebaliknya, kalau terbukti hasil analisa kebijakan tidak pro terhadap rakyat, maka mahasiswa harus mempertanyakan kebijakan tersebut kepada Pemerintah melalui berbagai cara.

Kalau mengingat kembali bagaimana masa di zaman Rasulullah SAW., kita mengetahui bahwa Rasul pernah melarang para pasukannya untuk mengambil harta rampasan perang kalau hanya untuk mempikirkan keuntungan pribadi atau kelompok tertentu. Akan tetapi, kalau digunakan untuk kebutuhan bersama dan menguntungkan banyak orang baru boleh diambil.

Nah, hal itu bisa kita jadikan kiat tersebut sebagai refleksi untuk bagaimana kita bisa memilih dan memilah pilihan yang akan kita ambil dalam suatu momen. Kecenderungan mahasiswa butuh uang itulah yang mesti dikurangi saat ini.

Kehilangan independensi gara-gara uang juga sering terlihat bagi beberapa kasus yang dilakukan oleh mahasiswa.
Sebagai orang yang disebut Presiden Soekarno sebagai “penyambung lidah rakyat”, tentunya rakyat memiliki harapan besar terhadap mahasiswa supaya mampu melindungi rakyat dengan idealisme.

Saat ini kepada mahasiswa mempunyai peranan yang amat penting bagi masyarakat. Selain kuliah Mahasiswa merupakan penyalur aspirasi rakyat ke pemerintah. Karena sejatinya mahasiswa itu dikalangan tengah antara masyarakat dan pemerintah, karena siapa lagi yang akan menyampaikan aspirasi masyarakat.

Mahasiswa mempunyai banyak akses untuk menyalurkan aspirasi rakyat ke pemerintah. Mahasiswa adalah harapan masyarakat, begitulah idealnya Mahasiswa. Tentang status dan peran mahasiwa tergambar dalam Tridarma Perguruan Tinggi yang berisikan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Bernostalgia sejarah 1998 tidak akan pernah mengulang kembali aksi fenomenal yang pernah menjadi catatan sejarah dalam kaleidoskop Indonesia. Mesti adanya niat dan tekad untuk menghilangkan jiwa individualis dan pengharapan kepentingan semata untuk bisa meningkatkan spirit perjuangan mahasiswa.

Mahasiswa mesti menjadi mesin penggerak utama dalam mengawal jalannya kepemerintahan negara. Sebagai harapan rakyat, maka mahasiswa harus memahami bahwa fasilitas perkuliahan yang digunakannya adalah berkat pajak yang diberikan oleh Rakyat.

Terakhir, penulis ingin berpesan kepada mahasiswa, kembalilah kepada fitrah mahasiswa sebenarnya, yaitu pembela hak rakyat. Karena rakyat rindu akan kaum muda yang kritis dan memikirkan masa depan bangsa dan negaranya. Jangan sampai mahasiswa kehilangan idenitasnya sebagai kaum intelektual. Mahasiswa harus hadir dalam kegelisahan rakyat Indonesia. Mahasiswa hari ini juga harus membuktikan bahwa hari ini masih ada dan terus hidup. (*)

Comment here