NasionalOpiniPendidikanSosialTokoh

Milenial dan Tahun Politik

FOKUSPARLEMEN.COM – Tahun ini adalah tahun pesta demokrasi, Bersiap-siaplah kaum milenial. Anda akan dirayu oleh sekelompok tim sukses untuk mendongkrak elektabilitas dan suara.

Dengan persentasi sekitar 37,7% terhadap total populasi di Tanah Air, Anda adalah target empuk para pemburu suara.

Termakan rayuan itu atau tidak, sikap Anda ditunggu dalam hiruk-pikuk pemilihan presiden dan Calon anggota legislatif.

Sebagai bagian dari generasi Milenial Andi Alif Mappatokkong mahasiswa UIM yang aktif dalam berbagai kegiatan riset dan survei politik di Sulawesi Selatan merasa sangat perlu bagi kaum Milenial untuk berpartisipasi.

Bagi dia, partisipasi milenial ini merupakan kontribusi dalam menentukan masa depan bangsa yang lebih baik.

“Saya tidak ingin menyesal di kemudian hari karena tidak berpartisipasi dalam menentukan pilihan.”

Andi Alif Mappatokkong mengamati anak-anak milenial zaman now sangat bergantung pada Internet. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk chating, media sosial, dan berselancar di dunia maya. Sah-sah saja mereka melakukan hal itu tetapi perlu diingat, bahwa tahun politik ini sarat dengan berita hoax dan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

“milenial diharapkan bisa lebih pandai dalam menyaring apa yang mereka dapat di Internet. Selain itu juga diharapkan bisa menjaga stabilitas negara karena hal tersebut penting buat Indonesia agar bisa maju bersama dan terus bersatu.”

Milenial lainnya, Andi Akbar, mengaku alergi ketika mendengar persoalan politik atau pilkada. Dia sudah terlalu jenuh dengan praktik politik kotor di negeri ini. Tidak ada perubahan yang berarti dari tahun ke tahun.

Namun, hal ini tak berarti dia tak mau menggunakan hak suaranya. Sama seperti Andi Alif, Akbar siap meng­­­gunakan hak suara pada pilpres yang akan datang.

Alif dan Akbar mungkin adalah cerminan milenial saat ini. Sebagian kecil masih menaruh harapan pada pemilihan atau peduli terhadap persoalan politik. Sebagian besar justru menghindari hal tersebut dan beralih pada kegiatan yang menyenangkan.

Untuk mendekati pemilih milenial, politisi memerlukan pendekatan khusus. Mereka mesti menyesuaikan karakter milenial yang kekinian, misalnya, bermain pada koten-konten kreatif di sosial media, berbusana kekinian, dan terlibat dalam komunitas-komunitas milenial.

Andi Alif Mappatokkong mengatakan, milenial ini tidak mempan didekati dengan cara-cara pendekatan zaman dahulu karena karakter kaum milenial tidak bisa di generalisasi.

Dalam “Old Society, New Youths: An Overview of Youth and Popular Participation in Post-Reformasi Indonesia”, Jonatahna Chen dan Emirza Adi Syailendra mencatat bahwa tidak ada deskripsi yang secara utuh dapat menggambarkan karakteristik kelompok milenial.

“Berbaurlah dalam dunia mereka untuk bisa direbut dalam kontestasi pemilu 2019.”

Peluang untuk hal itu terbuka karena dalam beberapa tahun belakangan kesadaran politik milenial mulai terbangun. Sebagian milenial bahkan ambil bagian dalam politik praktis. Sebagian lainnya cukup mengawasi dan mengkritisi kebijakan dari layar-layar gadget.

Namun, dinamika politik yang kurang etis yang di tampilkan beberapa politisi bisa membuat sebagian kaum milenial kecewa. Artinya, mereka bakal berpikir ulang dalam berpartisipasi di pemilihan umum nantinya.

“Di luar itu semua, milenial adalah orang-orang yang optimistis melihat kemajuan Indonesia”. (*)

Penulis : Andi Alif Mappatokkong.

Comment here